PSK Itu …

Baru-baru ini, para Pekerja Seks Komersial (PSK) kembali jadi sorotan seiring dengan peringatan hari AIDS sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Kok bisa ya? Simple, mereka itu kan pemilik saham terbesar untuk penularan penyakit HIV/AIDS.

PSK identik dengan ragam kegiatan prostitusi dan urusan bawah perut. Keberadaan mereka ini, perlahan-perlahan semakin kuat dan diakui. Saya ingat sewaktu kecil dulu. Istilah pelacur atau l*nt* sangatlah tabu dan memberikan status yang jelek bagi penyandangnya. Jumlah mereka pun sangat minim dan agak ditutup-tutupi.

Beberapa tahun berlalu, seiring derasnya pengaruh luar, dengan virus gahzwul fikri-nya, muilai terjadi pergeseran nilai. Para pelacur pun mulai ‘menghilang’, dan digantikan oleh Wanita Tuna Susila (WTS). Bahkan di beberapa kota, mereka punya ‘kompleks’ tersendiri dan khusus. Belakangan ini mereka lebih menunjukkan profesionalitasnya dengan mendapat sebutan resmi Pekerja Seks Komersial (PSK).

Sebutan ‘pekerja’ bagi mereka ini sepertinya menyejajarkan mereka dengan ragam profesi lainnya, seperti pekerja kantoran, pekerja pabrik, pekerja bangunan, pekerja harian dan lainnya. Padahal, perbuatan mereka ini secara hukum agama [Islam] merupakan perbuatan yang keji dan tercela dan diancam tidak bisa masuk syurga.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Israa’ [17] ayat 32)

Ada tiga jenis orang yang diharamkan Allah masuk surga, yaitu pemabuk berat, pendurhaka terhadap kedua orang tua, dan orang yang merelakan kejahatan berlaku dalam keluarganya (artinya, merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong atau zina). (HR. An-Nasaa’i dan Ahmad)

Kebijakan pemerintah yang ‘memanjakan’ mereka ini, telah berhasil mendongkrak jumlah para ‘pekerja’ ini. Di Bali, misalnya, menurut hasil penelitian YAyasan Kerti Praja bersama Dinas Kesehatan setempat, jumlah penjaja zina pada tahun 2006 mencapai 8 ribu hingga 10 ribu orang. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2003 yang ‘hanya’ 4 ribu hingga 5 ribu orang.

Bahkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, menurut penelitian Dinas Kesehatan, selama bulan Juli hingga September 2007, jumlah PSK ini meningkat hampir dua kali lipat. Darisekitar 380 ribu orang menjadi sekitar 610 orang [suara hidayatullah]. Busyet deh..!!!

At last, memanjakan Pekerja Seks Komersil itu, dengan status mereka sebagai pezina, bukanlah merupakan solusi mengehilangakn dampak kecil dair perbuatan mereka (seperti penyakit AIDS dan kelamin lainnya). Fakta berkata bahwa memanjakan mereka justru membuat mereka berlipat-lipat. -tyn-

Wallahua’lam

LONTEKU [Iwan Fals]
Hembusan angin malam waktu itu
Bawa lari ku dalam dekapanmu
Kau usap luka di sekujur tubuh ini
Sembunyilah-sembunyi ucapmu …
Nampak jelas rasa takut di wajahmu
Saat petugas datang mencarikuLonteku … terima kasih
Atas pertolonganmu di malam itu
Lonteku … dekat padaku
Mari kita lanjutkan cerita hari esok

Walau kita berjalan dalam dunia hitam
Benih cinta tak pandang siapa
Meski semua orang singkirkan kita
Genggam tangan erat-erat kita melangkah

CATATAN : Lagu ini diakui Iwan Fals sebagai karya yang tidak perlu di buat. Dia mengaku menyesal membuat lagu ini karena memiliki makna yang tidak baik.

2 Komentar »

  1. FaUZaNeVVa said

    Aku suka para PSK, mereka nggak pelit kalau diminta berbagi rokok. Mereka juga manusia, lain dimensi.

  2. Anak Alam said

    Ehmm… Alangkah tidak bijaksananya kita bila memandang masalah LONTE ini secara subyektif, karena mereka adalah “KITA”, tidak sedikit berbagai alasan mereka terjun ke dunia bisnis birahi karena alasan ekonomi untuk seuap nasi.
    Sebenarnya ini adalah PR buat kita dan pemerintah untuk bagaimana mensejahterakan seluruh warganya, kalo semua warga dah kaya kayaknya gak ada deh yang mau jual diri🙂. pokoknya jalanini bener-bener pasal 33 UUD 45 dijamin semua rakyat makmur, ironisnya fenomena LONTE ini malah dimanfaatkan segelintir oknum pemerintah, demi menggenjot pendapatan asli daerah (PAD?)

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: