seleb, desa dan konspirasi

bismillah …

Palembang kini semakin berbenah dan berbenah. Secara fisik dan kasat mata, pembangunan di wilayah kotamadya Palembang dimulai pada masa persiapan penyelenggaraan pesta olahraga PON XVI tahun 2004. Beberapa fasilitas pendukung kegiatan mulai gencar dibangun dan direnovasi. Tampilan kota pun dipercantik. Sepertinya Palembang akan menjadi kota metropolitan di tahun-tahun mendatang.

Dengan dukungan sumber dana, baik dari rakyat maupun dari alam milik sang Pencipta ini, kota Palembang terus giat membangun dan berkembang. Meninggalkan kota-kota sepulau lainnya, dan mencoba mendekati kota-kota yang berada di ‘atasnya’. Slogan-slogan untuk kota Palembang dan Sumatera Selatan yang diberikaan ‘wong pusat‘ semakin memberikan nilai PLUS untuk kota ini. Kota Palembang dan induknya Provinsi Sumsel menjadi ‘SELEB‘.

Kita tinggalkan sejenak Palembang dan Sumsel yang telah menjadi SELEB.

Menjelang hari raya Idhul Adha 1428 H, kami sekeluarga bersiap-siap untuk MUDIK LEBARAN ke desa kelahiran kedua orang tua saya. Perjalanan ditempuh selama lebih kurang 5 jam perjalanan santai dengan mengendarai mobil. Cukup melelahkan.

Cuaca desa yang asri dan masih alami menjadi daya tarik tersendiri, makin dilengkapi dengan adat dan budaya warga desa yang KEKELUARGAAN dan sopan santun. Sesuatu yang sangat sulit saya temui di kota secara umum. Palembang sendiri mungkin masih menyisakan tempat-tempat yang ‘MENDESA‘ ini.

Adakah hubungannya ‘KENYAMANAN’ ini dengan proses pembangunan dan kemajuan kota?!!!

Bila itu benar adanya, bukan tidak mungkin, desa-desa ini nantinya akan mencontoh pola hidup dan pola pikir warga kota. Tapi bedanya, warga kota punya fasilitas, warga desa minim fasilitas.

Ya, selama beberapa hari kami di desa, LISTRIK beberapa kali mengalami pemadaman. Setiap hari selalu ada program pemadaman. Bahkan, pada H-2 listrik hanya hidup pada saat menjelang maghrib dan padam kembali pada sekitar pukul 10 malam. Pada H-1 listrik baru bisa menyala pada sekitar pukul 7 malam dan kembali mati pada 9 malam. Malam takbiran pun kami isi dengan obor dan lampu teplok.

Akankah di tahun-tahun mendatang adat dan budaya desa ini masih bertahan? Dunia global memang dihadapkan pada pilihan, ikut mode atau jadi ‘wong ndeso’. Suatu konspirasi juga telah ikut mewarnai dunia. -tyn-

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: